Langit sore berwarna jingga ketika Ryu berjalan pulang dari sekolah. Bayangan tubuhnya yang kurus memanjang di aspal, seolah ikut menanggung beban yang selalu ia rasakan.Ryu hanyalah anak laki-laki biasa — atau setidaknya begitulah orang-orang melihatnya. Wajahnya tidak rupawan, tubuhnya tidak atletis, dan kehadirannya jarang dianggap penting. Di sekolah, ia lebih dikenal sebagai bahan ejekan daripada sebagai teman.“Eh, lihat! Si muka suram datang!”“Tolong jangan dekat-dekat, nanti keberuntunganku ikut jelek!”Tawa mereka terdengar keras, tetapi Ryu hanya menunduk. Ia sudah terlalu sering mendengarnya hingga tidak punya tenaga untuk membalas. Bukan karena ia lemah… melainkan karena ia tidak ingin menyakiti siapa pun.Di rumah, suasana jauh berbeda. Tidak ada ejekan, tidak ada tatapan merendahkan — hanya keheningan yang hangat.Ryu adalah anak pendiam. Ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Terkadang ia duduk di ruang tamu sambil membaca, atau hanya menatap langit dari jendela.Suatu malam, ayahnya berkata dengan suara tenang,“Dunia memang kejam, Ryu. Tapi itu bukan berarti kamu harus ikut menjadi kejam.”Ibunya tersenyum lembut.“Kamu anak yang kuat. Suatu hari nanti… kamu pasti bisa mengubah duniamu sendiri.”Kata-kata itu selalu tinggal di hati Ryu. Meski hidup terasa berat, ia percaya — atau setidaknya ingin percaya — bahwa suatu hari semuanya akan berbeda.Namun sore itu… takdir memilih jalannya sendiri.Saat menyeberang jalan, suara klakson memecah udara.TIIINNN—!Semuanya terjadi terlalu cepat. Cahaya menyilaukan, suara rem yang berdecit, lalu benturan keras.Dunia berputar.Sunyi.Gelap.…Ketika Ryu membuka mata, ia tidak merasakan sakit.Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada bau aspal. Tidak ada langit jingga.Yang ada hanyalah hamparan putih tanpa batas — seperti kabut yang berubah menjadi lantai dan langit sekaligus.“Di mana… aku?”Langkah pelan terdengar mendekat.Seorang pria berdiri beberapa meter di depannya. Pakaiannya sederhana namun tampak bersih dan bercahaya. Wajahnya tenang, dan matanya memancarkan kehangatan yang sulit dijelaskan.Pria itu tersenyum lembut.“Kamu masih memiliki kesempatan hidup lagi.”Ryu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan,“…Hidup lagi?”“Iya,” jawab pria itu. “Namun tidak di bumi yang sama.”Ryu mengepalkan tangannya, mencoba memahami.“Kamu akan hidup di dunia lain,” lanjut pria itu. “Dunia yang dipenuhi monster, sihir, dan petualangan. Dunia di mana kekuatan dan keberanian akan menentukan jalanmu.”Ryu menelan ludah. Anehnya, ia tidak merasa takut.Pria itu menatapnya dengan dalam.“Kamu adalah orang baik. Bahkan ketika dunia memperlakukanmu dengan buruk, kamu tetap memilih untuk bersabar. Tidak semua orang mampu melakukan itu.”Udara di sekitar mereka berkilau samar.“Karena itu,” kata pria tersebut, “aku akan memberimu sebuah anugerah — kekuatan yang bahkan belum bisa kamu bayangkan besarnya. Dan juga beberapa perlengkapan… agar kamu dapat bertahan di dunia barumu.”Jantung Ryu berdetak lebih cepat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berbicara seolah ia benar-benar berharga.Namun pria itu belum selesai.“Aku juga akan memberimu satu kesempatan terakhir,” ujarnya lembut.“Kesempatan untuk berpamitan dengan orang tuamu, keluargamu… dan siapa pun yang kamu anggap teman.”Mata Ryu melebar.Wajah ibunya terlintas di benaknya. Senyum ayahnya. Rumah kecil yang hangat.Dadanya terasa sesak.“Apakah… mereka akan tahu kalau aku pergi?” bisiknya.Pria itu tidak langsung menjawab.“Yang terpenting,” katanya akhirnya, “adalah apa yang ingin kamu sampaikan pada mereka.”Keheningan menyelimuti dimensi putih itu.Untuk pertama kalinya, Ryu menyadari sesuatu — hidupnya yang lama telah berakhir.Dan sebuah kehidupan baru… sedang menunggunya.
Please sign in to leave a comment.