Di sebuah kota kecil di pinggiran kerajaan, kehidupan berjalan lambat seperti aliran sungai yang enggan terburu-buru.Ladang-ladang gandum membentang luas, diterpa angin yang membawa aroma tanah dan harapan. Di sanalah, di antara kehidupan sederhana para petani, tinggal seorang anak laki-laki bernama Ryu.Ryu berusia tiga belas tahun.Ia bukan anak yang menonjol—bukan karena tidak mampu, tetapi karena ia memilih untuk tidak terlihat.Atau… mungkin dunia yang memilih untuk menjauhinya.Rambutnya berwarna putih perak, seolah tersapu oleh cahaya bulan yang membeku. Alisnya serasi, tipis dan pucat. Namun yang paling mencolok adalah matanya—satu berwarna biru dingin seperti salju yang tak pernah mencair, dan satu lagi merah menyala seperti bara yang tak pernah padam.Orang-orang menyebutnya aneh.Anak-anak seusianya… takut padanya.Tak jarang mereka berbisik di belakang punggungnya. Beberapa bahkan berlari saat Ryu lewat, seakan-akan kehadirannya membawa sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini.Karena itulah, Ryu jarang berbicara.Ia terbiasa diam.Terbiasa sendiri.Hari-harinya dihabiskan membantu orang tuanya di ladang. Ayahnya seorang petani yang kuat, dengan tangan kasar dan hati yang hangat. Ibunya lembut, selalu tersenyum meski kelelahan. Dan di rumah kecil mereka, ada dua adik kembar yang baru berusia lima tahun—satu-satunya alasan Ryu masih merasakan kehangatan tanpa rasa takut.Namun bahkan di tengah keluarga, Ryu tetap merasa… berbeda.Seolah ia bukan bagian dari dunia yang sama.—Malam itu, langit tampak lebih cerah dari biasanya.Bintang-bintang bertaburan tanpa cela, menggantung di atas dunia seperti lautan cahaya yang tak berujung.Ryu duduk di tanah, sedikit jauh dari rumahnya. Ia menatap langit tanpa berkedip, tenggelam dalam pikirannya sendiri.Langkah kaki mendekat dari belakang.“Ayah.”Ryu tidak menoleh, tapi ia tahu siapa itu.Pria itu duduk di sampingnya tanpa suara. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam, membiarkan angin malam berbicara menggantikan kata-kata.Kemudian ayahnya membuka suara.“Ryu… apakah kau tahu,” katanya pelan, matanya juga tertuju ke langit, “melihat bintang-bintang itu seperti melihat masa lalu.”Ryu tetap diam, tapi ia mendengarkan.“Ayah merasa… bintang itu tidak kecil.”Ryu sedikit mengernyit.“Menurut ayah,” lanjutnya, “bintang-bintang itu adalah ledakan besar… jauh dari kita. Cahaya yang kita lihat sekarang… mungkin berasal dari waktu yang sangat lama.”Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.“Artinya, apa yang kita lihat sekarang… adalah sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu.”Ryu perlahan menoleh. Matanya—biru dan merah—memantulkan cahaya bintang di atas mereka.Ayahnya menatapnya, kali ini lebih dalam.“Ayah hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”Suara itu tidak berat. Tidak pula memaksa.Namun entah kenapa… terasa sangat kuat.“Jadilah seperti bintang itu, Ryu.”Ryu terdiam.“Teruslah bersinar… bahkan jika suatu hari kau akan redup.”Angin malam berhembus pelan, menggerakkan rambut putih Ryu.“Ayah yakin,” lanjutnya, “kau bisa menjadi seorang pejuang yang hebat.”Kata-kata itu terdengar sederhana.Namun bagi Ryu… itu seperti sesuatu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.Keyakinan.Seseorang… mempercayainya.“Sampai saat itu tiba,” kata ayahnya lagi, kali ini lebih lembut, “kau masih bisa berada di sini. Di dekat ayah.”Ia menepuk kepala Ryu pelan.“Setidaknya… sampai kau berusia enam belas tahun.”Ryu tidak menjawab.Namun untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… ia tidak merasa sendirian.Matanya kembali menatap langit.Bintang-bintang itu…Apakah mereka benar-benar bersinar untuk semua orang?Atau… hanya untuk mereka yang berani melihatnya?Di dalam hatinya, sesuatu yang kecil mulai bergerak.Belum menjadi cahaya.Namun… bukan lagi kegelapan sepenuhnya.
Please sign in to leave a comment.