Chapter 1:
Shadow Court: Ring of Fate
Upacara penyambutan murid baru SMA Seirin Baru riuh oleh suara teriakan dan promosi dari berbagai klub olahraga. Papan-papan pengumuman berderet di sepanjang jalan masuk sekolah, dipenuhi poster berwarna-warni. Di antara kerumunan klub sepak bola, bisbol, dan renang, ada satu meja sederhana di sudut pohon sakura yang dijaga oleh dua murid kelas dua: Hyuga Junpei, sang kapten yang berkacamata, dan Aida Riko, manajer sekaligus pelatih tim basket dengan gaya bicaranya yang tegas.
"Sepi sekali..." gumam Hyuga seraya merapikan tumpukan formulir pendaftaran klub basket yang masih sangat tipis.
"Sabar, Hyuga-kun. Tim kita baru berdiri tahun lalu, wajar kalau belum banyak yang kenal," sahut Riko sambil melipat tangannya. Mata elangnya terus mengawasi murid-murid baru yang lalu lalang.
Tiba-tiba, bayangan tinggi besar menutupi cahaya matahari di atas meja mereka. Seorang pemuda bertubuh kekar dengan rambut merah menyala dan alis bercabang berdiri tegak. Matanya tajam bagaikan binatang buas yang sedang mengincar mangsa.
"Ini... klub basket SMA Seirin Baru?" tanya pemuda itu dengan suara berat yang dalam.
"A-ah, iya! Benar!" Hyuga tersentak kaget melihat postur tubuhnya yang intimidatif. "Siapa namamu?"
"Kagami Hoga," jawabnya singkat. Tanpa banyak bicara, ia mengambil pena, menuliskan namanya di formulir pendaftaran, lalu melemparkannya kembali ke meja. "Aku baru kembali dari Amerika. Basket di Jepang membosankan... semoga saja di sini ada yang cukup kuat untuk membuatku tertantang."
Setelah mengucapkan kalimat arogan tersebut, Hoga melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Hyuga yang mengepalkan tangan menahan kekesalan.
"Anak itu... sombong sekali!" gerutu Hyuga. "Tapi posturnya luar biasa untuk anak kelas satu."
Riko menyeringai tipis. Matanya telah memindai data fisik Hoga secara instinktif. Luar biasa... potensi otot, fleksibilitas, dan massa tubuhnya benar-benar di atas rata-rata murid SMA biasa.
"Tunggu dulu," Riko mengernyitkan dahi saat melihat lembar formulir berikutnya di tumpukan. "Hyuga-kun... sejak kapan formulir yang ini ada di sini?"
"Eh? Yang mana?"
"Nama: Ariaki Tetsuya. Asal SMP: Teiko Lama," baca Riko pelan. Matanya melebar begitu membaca nama SMP tersebut. "T-Teiko Lama?! Bukankah itu sekolah dari Generasi Keajaiban?!"
"Apa?! Mana mungkin!" Hyuga langsung merebut lembar kertas tersebut. "Tapi kalau dia dari Teiko Lama, kenapa aku sama sekali tidak menyadari kapan dia menyerahkan formulir ini?!"
Sore harinya, sesi latihan pertama klub basket SMA Seirin Baru dimulai di gimnasium utama. Semua anggota baru dikumpulkan di tengah lapangan. Riko berdiri di depan mereka dengan peluit menggantung di lehernya.
"Baiklah! Sebelum kita mulai latihan, lepaskan baju kalian!" perintah Riko tiba-tiba.
"EHHH?!" para anggota baru berseru kaget dan canggung.
"Jangan banyak protes! Ini cara cepat untuk melihat kemampuan awal dan kapasitas fisik kalian!" tegas Riko.
Satu per satu murid baru membuka kaus mereka. Riko memperhatikan proporsi otot, kekuatan inti, dan stamina masing-masing anggota. Ketika sampai pada Hoga, mata Riko berbinar. Angka-angka statistik fisik Hoga seakan melompat di dalam kepalanya—kekuatan melompat dan daya ledak ototnya sudah setara dengan atlet profesional.
"Luar biasa..." bisik Riko. Namun kemudian ia melihat daftar namanya lagi. "Tunggu... mana murid yang bernama Ariaki Tetsuya?"
"Saya di sini sejak tadi, Pelatih."
"UWAAGHH!"
Riko melompat ke belakang karena terkejut setengah mati. Di depannya berdiri seorang pemuda berambut perak kebiruan dengan campuran garis hitam. Pandangan matanya jernih dan tenang.
"K-Kapan kau berdiri di situ?!" seru Riko sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang.
"Saya berdiri di barisan depan sejak awal," jawab Ariaki dengan wajah polos tanpa ekspresi.
Riko meneliti tubuh Ariaki yang juga bertelanjang dada. Dahi Riko berkerut bingung. Berbeda dengan ekspektasinya tentang mantan pemain dari tim legendaris SMP Teiko Lama yang biasanya memiliki fisik monster, tubuh Ariaki tidak terlalu tinggi untuk ukuran pemain basket. Namun, ada sesuatu yang aneh. Tubuhnya tidak kurus ringkih; bahunya tegap, otot lengannya padat dan terbentuk rapi dari latihan keras yang terstruktur, meski posturnya tetap ramping.
Fisiknya lumayan terlatih dan berisi... tapi statistiknya biasa saja, batin Riko heran. Bagaimana bisa orang dengan hawa keberadaan setipis ini dan statistik standar bertanding di tim utama Teiko Lama?
Malam harinya, di sebuah lapangan basket jalanan yang remang-remang, Hoga sedang melakukan dunk sendirian. Dentuman bola dan goncangan ring memenuhi area yang sepi itu.
"Kau ketagihan main sendiri, Kagami-kun?"
Hoga hampir saja menjatuhkan bola karena kaget. Ia menoleh dan mendapati Ariaki berdiri di dekat tiang pembatas sambil memegang minuman kaleng.
"Ceh! Kau anak bayangan yang tadi, kan? Ariaki?" Hoga mendengkus keras. "Jangan muncul tiba-tiba begitu, bikin kaget saja!"
"Maaf," balas Ariaki tenang. Ia meletakkan minumannya lalu berjalan masuk ke lapangan. "Boleh aku ikut main satu lawan satu?"
Hoga menatap Ariaki dari atas ke bawah, lalu tertawa meremehkan. "Kau serius? Dari gaya bicaramu dan statistikmu tadi, kau tak kelihatan seperti pemain hebat. Tapi terserah saja, jangan salahkan aku kalau kau terluka."
Pertandingan one-on-one pun dimulai. Hoga memegang bola terlebih dahulu. Dengan satu langkah drive yang eksplosif, Hoga melewati Ariaki dengan sangat mudah dan melakukan layup tanpa perlawanan.
"Sudah kubilang, kan?" Hoga memutar bola di jarinya. "Gerakanmu lambat. Dribelmu standar. Tembakanmu pasti buruk. Kau sama sekali tak punya bakat basket."
Ariaki tidak terbawa emosi. Ia mengangguk pelan. "Benar. Secara individu, saya memang lemah dalam dribble, layup, maupun shooting."
"Lalu kenapa kau masih bermain basket?! Dan apa maksudnya statusmu sebagai mantan pemain SMP Teiko Lama itu?!" gertak Hoga frustrasi.
"Aku memang pemain Teiko Lama, tapi aku bukan bagian dari lima jenius utama," Ariaki menatap Hoga lurus-lurus. Mata birunya memancarkan kilatan ketajaman yang dalam—penglihatan Hawk Eye yang seketika membaca setiap sudut posisi tubuh Hoga. "Aku adalah pemain keenam. Bayangan yang bertugas mengalirkan bola."
Hoga mengerutkan dahi, tidak mengerti. "Bayangan? Jangan bicara menggunakan kiasan aneh!"
"Besok di pertandingan uji coba antar-anggota baru lawan senior, kau akan mengerti," Ariaki mengambil tasnya dan berbalik pergi. "Hoga-kun, kau adalah cahaya yang sangat terang. Dan makin terang cahayamu, makin pekat bayangan yang kubuat."
Hoga berdiri terpaku di tengah lapangan malam itu, memperhatikan punggung Ariaki yang perlahan menghilang dalam kegelapan, meninggalkan rasa penasaran yang mendalam di dada sang serigala merah.
Please sign in to leave a comment.