Chapter 1:
Iya, kami pacaran. Kenapa...? (Yes, we're dating. So...?)
[Dengan ini kami menyatakan, Aisha Purnama akan menjalani hiatus. Mohon pengertiannya, Terima Kasih.]
Sudah berakhir. Karirku sudah berakhir.
"Hei. Jangan menuduk begitu, dong. Badanmu nanti sakit loh."
"Kenapa kamu sangat santai begitu, Brandon? Karirmu juga akan hangus begitu saja loh!"
Dia melihatku dengan muka yang sangat santai. Entah mengapa aku merasa sedikit tenang melihatnya begitu. Seakan aku sedang melihat malaikat.
"Kamu tahu kenapa aku santai banget begini?"
"Terlalu malah."
"Hehe. Aku santai karena..."
Aku yang sedang duduk menatap ke depan terkejut saat Brandon menundukan badannya. Kepalanya tepat berada didepanku.
"Aku masih bisa sama kamu."
Bisa-bisanya dia masih menggodaku begini. Waktunya itu nggak tepat tahu!
"Iiiihh, malah godain begitu sih!"
Aku mendorong mukanya, membuat dia terjatuh.
"Ha ha ha. Kamu imut banget sih."
"Sekali lagi aku tanya, Brandon! Kamu santai banget, nggak panik apa? Sekarang, tolong jawabnya yang serius."
Suasana berubah, Brandon yang tadi jatuh, bangkit dan duduk menyilang dihadapanku. Dia menatapku dengan wajah yang serius. Matanya seperti tidak bernyawa, dan dia menjawab...
"Aku sudah benci dengan karir idol ini. Fans ku busuk semua."
Aku terkejut dengan jawabannya.
Busuk? Fans? Apa yang terjadi dengan fandomnya Brandon. Kedengarannya dia sangat muak dengan mereka.
"Brandon. Kamu bisa seterkenal sekarang itu karena mereka loh. Kok kamu sangat jahat pada mereka."
Aku mencoba menganti suasananya, namun Brandon tidak menahan. Ia berdiri dan berjalan kearahku. Aku merasa sangat takut sekarang hingga badanku merinding. Dia duduk disebelah kananku dan berkata...
"Kamu nggak merasa muak, Aisha? Mereka sudah keterlaluan loh."
"Tapi... mereka kan yang..."
"Mereka jugalah yang memberimu ancaman kepadamu. Kamu seharusnya lebih tegas."
Pernyataan yang Brandon lontarkan kepada membuat isi hati bergejolak. Kepalaku dibuatnya pening. Aku serasa ingin muntah.
"Brandon..."
Dengan naluri, dia memelukku dan berkata, "Maaf. Aku tidak ingin membuatmu menjadi seperti tadi. Aku salah."
Aku yang ketakutan membalas pelukannya. Walau aku barusan merasa takut terhadap Bradon, ia dengan mudahnya membuatku tenang kembali. Inikah yang dinamakan budak cinta?
"Tenang saja, Aisha. Aku tahu ini keadaan yang sulit bagi kita berdua, tapi kita harus tenang. Aku memang muak dengan fandomku sendiri. Namun, aku lebih muak lagi terhadap fandommu."
Kita berdua melepaskan pelukan kita.
"Kamu mau putus kontrak dengan agensi idolmu? Karirmu bagaimana?"
Dia tersenyum lebar dan berseru dengan bangga, "Kita berdua sudah umur sembilan belas, Aisha. Pikirkanlah! Idol itu tidak mungkin lebih dari umur dua-puluh, terutama perempuan."
"Nggak salah sih."
"Aku sudah menikmati tujuh tahun karirku sebagai idol laki-laki. Aku sudah merasa puas."
Apa yang dia katakan ada benarnya, namun masih ada setahun lagi sebelum aku berumur dua puluh. Aku masih ingin melanjutkannya.
"Aisha?"
"Brandon! Aku masih ingin menjalankan karir ini. Aku belum ingin menyelesaikannya begitu saja. Tolonglah aku."
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin!"
Dia berdiri dan berjalan tepat ke depan hadapanku. Dia memberikan tangannya dan berkata, "Baiklah kalau begitu. Aku turuti keinginanmu. Kalau ada masalah langsung aja kontak aku ya."
Aku menerima tangannya dan ia pun menariku berdiri. Aku yang berdiri langsung memeluk nya dan dengan gembira berseru, "Makasi, Brandon. Karir ini adalah kepunyaanku satu-satunya. Aku tidak akan membuatmu cemas."
Dia tidak memeluku balik melainkan medorongku, "Brandon?"
"Apa kau senang?"
"Huh?"
"Apa kau senang dengan aku menjadi kekasihmu?"
"Tentu! Bukankah kita sudah menjalani kencan ini selama setahun?"
Brandon menundukan kepalanya, "Iya aku tahu, tapi... hanya saja... aku merasa tidak nyaman."
Huh?
"Begini, Aisha. Kamu ingin melanjutkan karirmu kan? Tapi aku tidak ingin melajutkannya. Kau mengerti, kan? Apa yang akan terjadi?"
"A... apa?"
"Kamu tidak mengerti? Fandomku akan menyerangmu lebih parah lagi!"
Aku... tidak pernah kepikiran sampai situ. Benar juga ya. Kalau fandomnya Brandon mengetahui Brandon akan keluar agensi, mereka akan menyalahkanku. Tapi... tapi aku...
"Aku tidak nyaman dengan hubungan yang seperti ini."
"Brandon... jangan bilang..."
"Tidak! Aku tidak ingin kita putus! Aku ingin menjalankan hubungan ini. Aku mencintaimu, dan perasaanku ini murni! Aku hanya takut kejadian yang akan terjadi di hari-hari yang akan datang."
Brandon sangat perhatian denganku. Inilah yang suka dari dirinya.
"Dengar, Aisha! Aku memang bilang kalau ada masalah janga sungkan hubungi aku, tapi jikalau seakan-akan aku tidak hadir di sampingmu, kumohon! Kumohon, jangan bertindak gegabah, okay?"
Dia...
"Aisha?"
"Ah... ok! Aku paham."
... takut aku bunuh diri?
Setelah itu, manajer Brandon memanggilnya untuk pergi pulang kerumahnya. Tak lama kemudian aku juga pulang. Selama perjalanan pulang aku tidak bis berhenti berpikir apa yang dikatakan Bradon.
"Apa kau senang?"
Senang? Tentu aku senang... ya kan? Aku punya karir yang didambakan banyak perempuan seluruh jagat semesta dan kamu berpikir aku tidak senang? Tentu saja aku senang.
"Aku... tidak habis pikir."
Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan rebahan di ranjangku setelah memakai baju tidur. Seperti sebelumnya aku masih belum bisa menghilangkan pikiran tentang apa yang diserukan oleh Brandon.
"Apa kau senang?"
Apa ini yang benar-benar aku inginkan?
Disaat teringat kata-kata Brandon, pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah aku pikirkan muncul.
Apa aku bisa menahan serangan ini?
Apakah aku bisa terus melaju tanpa takut di serang?
Apakah... aku bisa terus bernyanyi sepenuh hatiku disaat yang tegang seperti ini?
Satu jam berlalu, dua jam berlalu. Malam pun berlalu. Aku tidak dapat tidur sekedip pun, namun aku masih merasa segar. Mungkin ini hasil dari aku yang sering bekerja keras dalam menata jadwal tidurku dengan baik. Tetapi di sisi lain, aku merasa ini akibat adrenalin hatiku yang terus berdetak kencang akibat merasa takut yang membuat seluruh tubuhku menjadi lebih bugar.
[Hey, kamu bisa tidur?]
Bradon adalah pria yang baik. Disaat-saat seperti ini dia masih peduli padaku.
[Aku tidak bisa tidur.]
[Tak apa. Yang penting, hari ini kamu jangan kemana-mana saja dulu. Kalau perlu apa-apa, beri tahu managermu atau aku lewat WA ya.]
[Makasih banget Brandon. Kamu benar-benar seorang pacar yang sangat baik.]
[Kamu adalah top prioritasku saat ini. Aku tidak bisa lengah dan membiarkanmu menanggung beban ini sendirian.]
[💋💋💋]
[💋💋💋]
Setelah bersapa-menyapa lewat WA, aku melakukan rutinitasku seperti biasa. Masak, makan pagi, mandi, nge-gym, dan akhirnya latihan di studio yang sudah disediakan dirumah.
Di pertengahan kegiatanku, ayah dan ibuku juga sempat mengirimkan saran lewat WA. Bahkan kami juga sempat Face Time.
{Sayang, ayah khawatir. Kamu beneran tidak ingin berhenti nge-idol.}
{Ibu juga khawatir, Aisha. Ayah dan ibu bekerja terus dan tidak dapat tinggal dirumah. Jarang-jarang bertemu denganmu. Kalau terjadi sesuatu padamu, ibu hanya bisa menyalahkan diri sendiri.}
{Ibu dan ayah bekerja saja. Aku tidak apa-apa kok. Kan ada Brandon.}
{Ayah memang senang kamu bisa berpegang tangan pada pacarmu. Tapi menurut ayah, itu belum cukup.}
{Sebenarnya ayah pulang kerja dari luar negeri kapan sih?}
Ayah tidak merespon cepat, jadi ibu mengambil alih topik.
{Ibu akan segera kembali setelah selesai pekerjaan di Bali. Kurang lebih seminggu.}
{Baiklah ibu.}
{Drigo sayang?}
{Maafkan ayah, Aisha. Ayah baru bisa pulang bulan depan.}
Aku memasang muka cemberut, membuat ayah merasa bersalah dan membalas dengan cepat.
{Te... tetapi ayah akan pastikan dengan boss ayah. Ayah yakin, Boss Mahdil akan mengerti situasi seperti ini dan mengijikan ayah pulang lebih cepat.}
{Janji?}
{A... yah...}
Ibu memasang muka kesal.
{Ayah usahakan.}
Begitulah yang terjadi. Sisa hari setelah latihan aku hanya bisa duduk di ruang kelarga dan menonton TV. Setiap siaran TV lokal sedang ramainya memberitakan tentang aku dan Brandon. Melihat itu, membuatku muak.
"Kenapa sih aku nggak bisa merasakan apa yang manusia biasa rasakan?"
Mengganti kanal TV lokal berkali-kali dan yang benar saja, setiap kanal hanya ada berita menyerukan tentang aku dan Brandon berulang-ulang kali. TransTV, Trans7, MetroTV, RCTI, SCTV, RI ONE, Indosiar — tidak ada satu pun kanal lokal yang membahas topik lain selain beritaku dan Brandon. Semua!
"Gua kayak National Treasure aja, njir."
"Apa kau senang?"
Suara itu kembali berkumandang di kepalaku. Aku merasa pertanyaa itu sudah menjadi bagian dari kepalaku sebab berapa seringnya aku mengingat pertanyaan tersebut.
"Aku... senang. Kan?"
Aku mematikan TV dan menatap ke atap.
"Iyakan?"
⟦Bersambung⟧
Please sign in to leave a comment.