Chapter 2:

Banyak Pikiran

Iya, kami pacaran. Kenapa...? (Yes, we're dating. So...?)


[Sekarang kami berada di depan rumah sang idola cilik bernama Brandon Harjadikwa, ingin menanyakan beberapa pertanyaan tentang dirinya dengan pacarnya, Aisah Purnama.]

"Dua kata! FUCK OFF!" Seruku sambil memberi jari tengah kepada wartawan yang memberikanku micnya.

Semua orang terlihat terkejut dan tercanggung. Di saat itulah aku melarikan diri dari kerumunan.

"Gile, njir. Sampe segininya orang-orang pengen denger sepatah kata dari gua. Sebel banget anjir."

Aku terus berlari ke arah belakang rumah untuk memasuki rumahku lewat pintu belakang karena pintu depan di cegat oleh kerumunan wartawan.

Melompati pagar bagian belakang rumah, aku berhasil melarikan diri. Aku pun masuk lalu memberi pesan lewat WA kepada Aisha.

[Hey, kamu bisa tidur?]
[Aku tidak bisa tidur.]

Tidak tidur? Sepertinya aku membuatnya banyak pikiran. Mungkin aku salah telah bertanya pertanyaan itu. Kelihatannya Aisha menjadi stress karena itu.

[Tak apa. Yang penting, hari ini kamu jangan kemana-mana saja dulu. Kalau perlu apa-apa, beri tahu managermu atau aku lewat WA ya.]
[Makasih banget Brandon. Kamu benar-benar seorang pacar yang sangat baik.]
[Kamu adalah top prioritasku saat ini. Aku tidak bisa lengah dan membiarkanmu menanggung beban ini sendirian.]
[💋💋💋]
[💋💋💋]

Aku harus kuat. Aku harus tegak. Jangan lengah karena pacarku sedang berada dalam masalah. Jikalau aku lengah sedikit pun, bisa saja Aisha terjebak dalam masalah.

"Nak? Bisakah kita berbicara?"

Ayahku memanggil dari ruangannya yang berada di lantai dua dan aku pun menghampirinya. Aku berjalan dengan gegas menuju ruangannya. Aku membuka pintu ruangan itu dan melihat ayah tepat berada di mejanya yang megah. Ia duduk menyampingkan badannya dan tidak menatap aku secara mata ke mata.

"Ada apa, ayah?"
"Kamu serius dengan keputusanmu untuk melepaskan pekerjaanmu?"
"Iya. Seratus persen. Aku yakin penuh."

Ayah terdiam dan menatapku dengan intens. Ia melihatku seperti sedang menginterogasiku. Saat beberapa detik berlalu, ayah menutup matanya and menghela nafas kuat-kuat.

"Kalau ayah tahu akan jadi seperti ini akhirnya jika kamu dan Aisha mengumumkan pacaran, ayah seharusnya hentikan pekerjaan idolamu sejak awal kalian berpacaran."
"Maafkan aku, ayah."
"Tidak! Ayah yang salah. Ayah sudah tahu kamu berpacaran dan ayah tahu konsekuensinya. Tapi ayah tetap mengikuti keinginanmu untuk beridola. Sekarang... Kamu merasakan hal yang menyakitkan saat menjadi idola."

Kita berdua terdiam. Aku mencoba mengganti topik, namun sebelum aku dapat berseru, ibu masuk ruangan dan berseru,

"Sayang. Ada semakin banyak wartawan di depan rumah kita. Bagaimana kita bisa menghentikan mereka?"

Mendengar itu, aku menjadi merasa bersalah. Aku melihat ayah memutarkan bangkunya untuk melihat ibu lebih jelas.

"Tenang saja, Helen. Sebagai mantan idola juga, aku tahu aku harus turun tangan juga."
"Huh? Kamu ingin menjadi tameng? Kamu akan keluar ke sana? Roland pikirkan baik-baik terlebih dahulu! Bukankah ini akan membuat jelek reputasimu? Nanti kamu..."

Ayah berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju ke jendela yang mengara ke depan rumah. Ia menatap keluar jendela dengan muka yang tegang.

"Aku sudah pensiun, Helen. Tidak ada yang akan hilang dariku. Aku tidak perlu takut menghadapi mereka."

Setelah melihat keluar jendela, ayah menatapku dan bertanya,

"Di pagi buta tadi kamu keluar rumah, kan? Beli makan apa kamu?"
"Aku beli nasi goreng."
"Sudah dimakan?"
"Sudah. Di rumah makannya."

Ayah tersenyum. Ia mendekatiku dan berseru,

"Aku bangga kamu sudah mandiri, tapi lain kali berhati-hatilah. Kamu sedang menjadi sorotan dunia luar. Aku dan ibumu tidak ingin melihatmu kenapa-napa."
"Aku mengerti ayah."
"Sekarang ayah ingin keluar sebentar..."

Ayah berjalan melewatiku keluar dari ruangannya. Sebelum keluar, ia sempat mengusap kepalaku dan mencium pipi ibu.

"Ayah akan segera kembali."

Beberapa menit berlalu, aku pun menatap keluar dari jendela lantai satu. Aku menatap ayahku yang sedang berada di tengah-tengah kerumunan wartawan. Melihat mereka mengerumuni ayah membuatku muak dan bukan hanya itu, kejadian ini membuatku banyak pikiran. Di satu hal aku harus terus berhati-hati saat menjalani kehidupanku, di lain hal aku juga harus perhatian dengan Aisha. Dia bukan perempuan yang aku kenal lagi; dia telah menjadi pasanganku.

"Aku tidak peduli dengan diriku yang sekarang. Aku lebih peduli Aisha. Jangan sampai ia mengalami sakit mental karena semua ini."

Karena penasaran aku pun berpijak dari ruang tamu menuju ruang keluarga. Aku menyalakan TV untuk melihat setiap kanal lokal televisi. Tanpa ragu dan sangat yakin terhadap instingku, persaanku benar. Setiap kanal lokal mengunggah cerita tentang kami.

"Kampret anjir. Nggak dikasih istirahat."

Aku mematikan TV tersebut dan menelpon Aisha. Dia mengangkatnya secara cepat.

"Hey, bagaimana keadaanmu?"
"Aman. Aku baik-baik saja, Brandon. Terima kasih karen sudah khawatir tentangku."
"Aku sekarang ini pacarmu, tentu aku khawatir."
"He he. Imut banget sih, kamu."

Aku tersenyum bahagia karena dapat  mendengar suara Aisha lagi. Walau melalui telepon.

"... Brandon..."

Tonasinya pun berubah. Aku langsung merasa was-was.

"Aisha?"
"Aku baru saja melihat kanal lokal televisi. Ini lebih gawat dari yang kupikirkan."

Sudah kuduga, dia tidak akan tahan dengan tekanan media.

"Mau aku kesana?"
"JANGAN!"
"Huh?!"

Suara Aisha berubah. Terdengar sangat jelas kalau ia bergemetar.

"Jangan ke sini. Aku takut mereka mengikutimu dan tahu alamat aku tinggal. Jangan sampai mereka tahu."
"... Aku mengerti. Lalu kamu mau aku ngapain?"

Dia terdiam sejenak, lalu...

"FaceTime yuk."

Aku pun bergegas ke kamarku dan menyalakan komputer. Setelah komputerku menyala, aku membuka aplikasi FaceTime dan langsung menyambungkannya ke Aisha.

"Aisha?"
"Ah... kamu pakai komputer."
"Tentu! Aku ingin melihat wajahmu lebih jelas."
"He he. Kamu ini! Padahal disaat seperti ini banyak sekali tekanan yang bikin kepala dan hati stress, kamu tetap seperti matahari yang menyinari hidupku."

Harus! Aku harus menjadi penyokong untuk kepala dan hatimu itu!

"Tentu saja. Bukankah sudah aku bilang? Aku akan terus mendukungmu, Aisha."
"Ehe he. Aku semakin jatuh hati sama kamu. Aku... pengen kamu ada disisiku sekarang, namun aku takut."
"Aku mengerti. Ayo terus berbicara melalu FaceTime hingga kita cape dan tidur nanti malam. Ayo kita hilangkan banyak pikiran ini melalui kegiatan yang menyenangkan."
"Ide yang bagus."

Setelah itu pun, kami melakukan banyak hal. Menonton film, main gim, saling bercerita dan juga nyanyi duet. Melihat Aisha tersenyum dan bersenang-senang membuatku senang. Waktu berjalan cepat dan tidak terasa waktu sudah pukul delapan sore.

"Brandon."
"Iya ibu?"
"Aisha."
"Selamat sore, tante."
"Ibu ingin berbicara dengan kalian berdua."

Ibu pun berjalan masuk ruanganku dan duduk di ranjangku.

"Maaf ibu telah berpikir dan mengajukan saran sendirian tanpa ayahmu, Brandon. Tapi ibu ingin tahu tentang ide ini."
"Ide apa, ibu?"

Sebelum menyatakan idenya, ibu menghelakan nafas dengan kuat dan bertanya;

"Kalian mau langsung tinggal serumah?"
Kami berdua terkejut, "Huh?"
"Seperti kata ibu sebelumnya, maafkan ibu. Ibu mendengar betapa bahagianya kalian berdua menghabiskan waktu bersama walau hanya melalui FaceTime."
"Ibu mendengar kami?"

Aku dan Aisha menatap satu dengan yang lain. Ibu melanjutkan dan mengalihkan pandangan kami kembali kepadanya.

"Ibu sangat sesak menahan sakit ini. Ibu ingin sekali kalian berdua bahagia tanpa adanya tekanan media. Ibu sangat ingin kalian tidak banyak pikiran."

Aku melihat ibuku mengeluarkan air mata. Aku pun beranjak dari bangku dan mendekati ibuku. Dengan insting seorang anak yang khawatir, aku memeluknya dan berseru;

"Ibu! Ibu jangan nangis. Ibu tidak perlu sedih begini dan memikirkan tentang kami berdua. Jalani hidup ibu saja! Aku dan Aisha akan menemukan jalan kami sendiri!"
"Hiks... Hiks..."

Ibu menangis menambahkan pikiran buruk di keadaan seperti ini.

"Tante! Seperti yang Brandon katakan. Kami baik-baik saja. Kami akan menemukan jalan keluarnya sendiri. Toh, kami ini kan sudah jadi pasangan."
Aku terkagum dengan apa yang dikatakan Aisha. Aku memutar kepalaku untuk melihatnya, "A... Aisha?!"

Ibu menghela tangisnya dan melepaskan pelukanku. Dia berdiri dan memeluk balik aku.

"Kalian berdua tumbuh menjadi dewasa sangat cepat..."

Aku hampir terharu.

"... walau tinggimu tidak pernah bertambah dari seratus enam puluh lima."
Tersinggung aku pun berteriak, "HEY! Apa-apaan sih bu! Jangan bikin malu aku didepan Aisha, ah."

Aku menatap layarku dan melihat Aisha yang tertawa berbahak-bahak.

"Aku lupa! Kita memiliki tinggi yang sama."
"Tidak! Kita berdua memiliki tinggi yang normal. Ibuku saja yang terlalu tinggi."

Kami bertiga pun tertawa dan melupakan apa yang sedang terjadi sekarang.

⟦Bersambung⟧

MyAnimeList iconMyAnimeList icon