Chapter 3:
Iya, kami pacaran. Kenapa...? (Yes, we're dating. So...?)
[Dikarenakan panasnya topik Aisha dan Brandon ini, penyanyi utama terkenal, Roland Harjadikwa, dari band THE RISE harus turun ke lapangan untuk memberikan sepatah kata.]
Om Roland menjadi topik pembicaraan sehari sesudah itu. Aku sangat merasa bersalah.
"Well, yang menyiarkan liputan itu hanya TV One saja sih. Mungkin itu tidak akan menjadi kabar besar."
Dalam liputan tersebut, Om Roland menyampaikan bahwa setiap idola punya kehidupannya sendiri. Jikalau mereka berani-beraninya mengganggu aku dan Brandon, mereka akan dituntut. Aku terkesan pada kalimatnya. Membuatku sedikit tenang.
*Lagu Aisha, "Jadikan Aku Yang Pertama* berbunyi*
Ah! Brandon menelponku.
"Hey, bagaimana malam kemaren? Bisa tidur kan?"
"Yeah. Makasih banget yah udah temenin aku lewat FaceTime."
"That's what a boyfriend would do."
"So sweet."
Setelah itu, kami berdua saling bercakap melalui telepon kami. Di saat yang bersamaan, aku melakukan kegiatan rutinku dari nge-gym dan latihan bernyanyi. Saat bernyanyi, kami sepakat untuk melakukan duet lagi. Rasanya menyenangkan sekali melakukan kegiatan seperti ini.
*TING* *TONG*
Bel rumah? Paket kah?
Aku beranjak dari ruang studio rumah untuk berjalan menuju pintu rumah, namun sebelum itu Brandon dengan lantang bertanya.
"AISHA!"
"Uwaaa. Kenapa kamu berteriak?"
"Kamu... beli sesuatu online?"
"Nggak...? Kemungkinan ibuku beli. Kenapa memangnya?"
Aku menatap Brandon dengan muka yang horror ketakutan.
"Aisha. Aku mau kamu nggak buka pintu itu dan tunggu aku."
"Huh?"
"JANGAN BUKA PINTU ITU!"
"I... Iya, iya. Aku ngerti."
Aku melihat Brandon bergegas mematikan sambungan FaceTime-nya denganku dan aku terdiam kebingungan.
*TING* *TONG*
Bunyi bel rumahku pun kembali berbunyi, membuatku semakin penasaran.
"Brandon tidak pernah mengatakan untuk tidak mengintip melalui lubang intip, sih." Aku pikir dibenakku
Pikiran itu terlintas di kepalaku dan aku pun melakukannya. Saat berada tepat didepan pintu depan, aku melirik dan melihat denga mata kananku...
"Gelap?"
Siapapun yang berada didepan pintu ini tidak ingin aku melihatnya. Kalau begitu aku...
"AISHA PURNAMA! AKU MENDENGAR KAMU BERBICARA DIDALAM SANA! KELUARLAH!"
Huh? Aku... padahal aku berbicara dengan suara hening. Bagaimana...?
"HEI! SIAPA KAMU?!"
Brandon?
"AISHA... AI... Ugggh!"
Aku mendengar suara pria yang berteriak tadi dicelah dan dijegal oleh seseorang yang besar kemungkinannya, Brandon. Dia terdengar dia kesakitan dan meminta bantuanku.
"Brandon?! Brandon?"
"AISHA, JANGAN BUKA PINTUNYA!"
Suara Brandon terdengar sangat prihatin, hampir seperti ketakutan.
"Hey, man. Jangan tindiin gua begini."
"Fuck off, dude! Nggak ada orang yang tahu alamat rumah Aisha. Darimana lu tahu dia tinggal dimana?"
Saat Brandon mengintrogasi pria itu, pria tersebut mengangkat tonasi bicaranya dan menjawab setiap pertanyaan Brandon dengan kasar.
"Lu nggak perlu tahu... UWaaa ughhh"
"Gua pacar dia. Gua berhak tahu lu mau ngapain cewek gua."
"Nggak ada hubungannya. Lu cuman ngambil keperawanannya doang kan.... ANJIR, KAMPRET! TANGAN GUA."
"NOBODY MESSES WITH MY GIRL!"
*Krek* *Krek*
Aku hanya bisa mendengar dari belakang pintu depan rumahku. Pria yang itu berteriak tanpa meminta ampun. Aku merasa takut dan terpuruk.
"Tai lah."
*Buuk*
"Brandon?"
"Jir, ini orang kepalanya udah kaya besi."
*Buuk*
*Baak*
*Daak*
Tanpa melihat perkelahian mereka, aku bisa bayangkan betapa horrornya skenario tersebut. Aku hanya bisa berpikir hal terburuk. Aku berharap agar perkelahian mereka cepat selesai.
"YEAH. LARI LU KAMPRET! Jangan pernah balik lagi!"
Sudah... selesai?
"Brandon? BRANDON?! Kamu nggak apa-apa?"
"Aku nggak apa-apa, Aisha. Kamu tenang saja didalam sana..."
Dengan gercap, aku membuka pintu dan menarik Brandon kedalam rumahku.
"Kamu gila ya! Aku kan udah bilang jangan kesini!"
"Dan meninggalkanmu sendirian sama orang menjijikkan itu? Aisha, dia bawa piso."
Badanku langsung merinding medengar pernyataan itu.
"Untungnya aku langsung melemparnya ke tong sampah saat kita mulai tonjok-tonjokan."
"Kamu nggak kena pisaunya kan?"
"..."
"Brandon?"
Dia berputar menunjukanku luka iris yang berada di pinggangnya.
"Oh, tuhan, Brandon."
"Kamu... ada P3K, nggak?"
Tanpa basa-basi, kami lekas menuju ruang kamarku dan mengambil P3K yang terletak di kamar mandi pribadiku.
"Tenangkan dirimu, Brandon. Ini akan sedikit sakit."
"Aku seorang pria, aku tidak akan... Auw"
"Dibilang diem, malah gerak."
"... maap."
Aku menutup luka irisnya dengan cepat dan rapih. Brandon pun langsung berterima kasih. Setelah adegan itu, handphone Brandon berdering dengan tertulis, "Ibu tersayang".
"Halo, bu."
Aku hanya bisa mendengar suara Brandon membalas telepon ibunya.
"Iya! Ok. Aku akan disini. Maaf mengkhawatirkanmu."
Singkat, padat, dan jelas. Tante Helen meminta Brandon untuk tetap disini menjagaku. Itu sudah pasti.
"Ibuku..."
"Iya. Kamu tinggal di rumahku aja dulu. Aku tidak keberatan."
Brandon tersenyum dan membalas ibunya kembali melalui handphonenya. Setelah beberapa detik, ia pun menutup pembicaraannya.
"Terima kasih, Brandon."
"Hey, jangan cemberut begitu, ah. Muka cantikmu jadi tandus loh."
Dia masih bisa bercanda, disituasi ini?
"Brandon. Aku seriusan. Aku..."
"Aku juga serius. Aku ingin kamu tidak terlalu gelisah. Sekarang akan lebih mudah karena aku bersamamu."
"... Bagaimana aku tidak gelisah? Kamu teriris gara-gara aku. Aku membahayakanmu."
Aku mulai mengeluarkan air mata, terseduh. Brandon mendekatiku dan mengusap air mataku.
"Cup, cup. Udah ah, jangan nangis."
"Kamu bener-bener pacar yang..."
Kalimatku terhenti dan suara teriakan dari luar terdengar.
"Huh?"
"Mereka sudah datang, huh? Cepet juga."
"Brandon?"
Brandon berdiri dan bergegas menutup semua jendela kamarku.
"Brandon?"
Dia memberi isyarat jangan berisik dan memberikanku isyarat untuk tetap tenang.
"Penggemar beratmu yang tadi itu sudah pasti menyebarkan alamat rumahmu. Ibuku tahu, makanya dia memberiku ijin menetap disini. Sekarang, jangan sampai mereka tahu kita berdua didalam sini."
Aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti perintahnya. Setelah itu kami bergegas keliling rumahku untuk menutup dan mengunci segala pintu, jendela, dan gorden-gorden yang berada dirumah ini.
"Aisha kita akan menetap di loteng rumahmu. Kamu nggak apa-apa kan di tempat kecil itu."
"Iya. Aku nggak apa-apa."
"Bagus! Bawa makanan dan minuman. Kita sudah pasti bakal diatas sana lebih lama."
Aku bergegas mengambil makanan yang kumasak tadi pagi dan membawa beberapa minuman untuk bertahan diatas sana.
"Aisha, aku ingin kamu janji padaku, sekali lagi!"
"... Sepertinya aku tahu yang kamu akan katakan."
"Apa itu?"
"Aku berjanji tidak akan gegabah dan menjaga diriku dengan baik. Kamu sedang berada disini, jadi aku lebih tenang."
Brandon tersenyum lebar. Dia memberikan tangannya dan aku menerimanya. Kamu berdua berjalan ke lantai dua dan membuka loteng. Disaat kami menaiki tangga ke loteng, kami mendengar suara gedor. Teriakan pun juga terdengar.
"AISHA PURNAMA! Kami ingin mendengar sedikit kata darimu. Kami janji tidak akan menanyakan lebih dari situ saja. Jadi kumohon keluarlah."
Brandon bergemuruh, "Cih, mereka tidak menerima pesan ayah dengan serius. Mereka bakal mampus sekarang. Ayah pasti akan membuat mereka menderita."
Sebagai seseorang yang hanya bisa menonton dari jauh saja, aku tahu bahwa Brandon dan keluarganya sangat serius tentang ini. Andai orang tuaku berada disini sekarang...
"Orang tua?"
"Apa ada masalah, Aisha?"
"Brandon! Ibuku akan kembali kerumah sekitar sminggu lagi. Akankah kerumunan ini akan pergi lebih cepat?"
"Tante Lisa akan kembali? Bukankah dia baru saja pergi ke Bali."
"Disituasi ini? Tentu aku ingin dia kembali."
"Justru disiuasi inilah mereka harusnya jauh dari TKP. Kamu ingin mereka dalam bahaya? Saat kita selesai merapihkan ruang ini, kita langsung menelpon ibumu!"
Dengan muka yang serius, Brandon meyakinkanku. Kami pun bergegas merapihkan ruang loteng dan segera menelpon orang tuaku.
[Ibu, ayah?]
[Aisha dan... Brandon?]
[Hai, Om. Hi, Tan.]
[Lah, kok kamu dirumah saya.]
[Tadi ada yang berani-beraninya nge-stalk Aisha, Om. Saya kemari secepat mungkin sebelum terjadi masalah sama Aisha.]
Terlihat dari muka orang tuaku, mereka terlihat sangat lega mendengar itu.
[Aisha, sayang, ibu akan segera pulang. Tunggu dulu ya.]
[Masalah itu. Tante jangan pulang dulu, Tan. Urusannya menjadi lebih besar.]
[Huh? Kenapa itu?]
[Rumah tante dan om lagi dikerumuni orang banyak.]
[HUH?]
[Sepertinya orang yang nge-stalk Aisha mempublikasikan alamt rumah om dan tante. Jadi sebaiknya om dan tante jangan pulang dulu sebelum ayahku menyelesaikan masalahnya.]
Kedua orang tuaku terlihat stress setelah mendengar itu.
[Baiklah, Brandon. Dengarkan om baik-baik.]
[Siap om.]
[Om mau kamu jaga Aisha baik-baik. Kami memberikan kepercayaan yang tinggi kepadamu. Jangan sampe putri bapak kenapa-napa. Ngerti kamu?]
[Tentu om. Saya janji.]
Dengan begitu pun, kami berempat menyelesaikan percakapan dengan bercakap-cakap sebentar tentang keperluan yang perlu kami urus.
[Baiklah sayang. Ayah dan ibu menyayangimu. Berhati-hatilah disana dengan Brandon.]
[Baik, bu.]
⟦Bersambung⟧
Please sign in to leave a comment.