Chapter 1:

Lintang & Seorang Ibu

Lintang Langit


Kisah ini menceritakan seekor kucing yang baru saja lahir di dalam sebuah rumah usang yang tidak berpenghuni.

Seekor kucing jantan kecil baru saja membuka matanya menentang cakrawala nan indah.

Ia dan dua kucing terlahir didunia yang baru yang amat bercahaya dikelilingi bau yang sedap.

Ibunya pun mengeong memberitakan kepada ayahnya, anaknya baru saja lahir.

Ayah pun bergegas mendekati dan memandangi ketiga anaknya yang sangat kecil yang sedang menciut ketakutan.

Ayahnya mendekati ketiga anaknya dan mengendus, memberi salam kepada mereka, menjilat, membersihkan badan mereka, dan mengeong, menyapa mereka.

Ketiga anaknya pun tenang, termasuk si kecil.

Secara insting, ketiga anaknya pun meminum ASI ibunya karena mereka lapar.

Si kecil meminum ASI dengan sangat rakus, membuat kedua saudaranya sulit meminum bagian untuk mereka.

Setelah kenyang meminum ASI, mereka tertidur dengan nyenyaknya. Ibu mereka pun ikut tertidur.

Selama tertidur, sang ayah bepergian ke sana kemari untuk menemukan makanan untuk seorang ibu terkasih.

Ia mondar-mandir ke swalayan, ke toko makanan, bahkan ke rumah manusia untuk mencari makanan, namun tidak ada yang mau membatunya.

"Ihhh, lucu. Ada kucing lagi cari makan", sebuah sahutan seorang manusia perempuan melihat sang ayah.

"Aku kasih ikan sisa makan siangku, nih. Ayo dimakan", sang ayah menatap dengan tegang dan bersiap untuk kabur saat ada kesempatan.

Sebelum ia bergegas kembali ke sarangnya, seorang perempuan tersebut melempar sepotong ikan goreng sisa makan siangnya.

Sang ayah kebingungan, namun ia tetap menerima ikan goreng tersebut dengan senang hati dan membawanya pulang.

"Yah, kok kabur sih", seorang perempuan tersebut kecewa melihat kucing yang ia beri makan kabur.

Dengan senyum yang cemerlang, ia berseru, "Hmm, ikutin, ah."

Manusia perempuan itu pun melangkah dengan loncat gembira mengikuti sang ayah kucing.

Sesampainya sang ayah ke sarangnya kembali, sang ibu telah terbangun dan menyambut sang ayah.

Saat ayah tersebut memberi ikan yang dia terima dari manusia yang dia temui, dia menerima jilatan sang ibu berseru terima kasih.

Tugas sang ayah pun selesai, dan ia berbaring agak jauh dari sang ibu dan anak-anaknya.

Tidak lama setelah itu.

"Uwaa, rumah usang. Tua dan tidak ada penghuni. Si kucing bercorak hitam putih itu pergi ke sini kah?"

Mendengar suara itu, sang ayah melihat ke arah pintu masuk sarangnya. Ia menatap seorang perempuan yang ia temui beberapa waktu yang lalu.

Dengan cepat ia memperingati sang ibu dan pergi menemui sang perempuan.

"Wah, meong. Di sini kamu rupanya."

Sang ayah memberi gencatan senjata dengan mendesis. Namun sang perempuan hanya tersenyum.

Perempuan tersebut menutup pintu masuk dan berjongkok.

"Jangan takut meong. Aku cuman pengen main sama kamu."

Sang ayah melihat gerakan tangan perempuan tersebut.

Awalnya ia takut untuk mendekat, namun secara perlahan ia mendekati seorang perempuan itu.

Perempuan itu terlihat semakin senang saat sang ayah mendekatinya, namun...

"Leni! Kemana kamu? Astaga anak itu, benar-benar."

Karena takut sang ayah langsung pergi dengan cepatnya.

"Ah, ibu nyebelin banget sih."

"LENI! Ibu nggak izinin kamu masuk rumah nih ya. Awas kamu nangis. Ibu gamparin kamu sepuluh keliling."

"Iya, bu. Iya. Saya di sini."

Perempuan itu membuka pintu masuk, dan langsung menatap ibunya yang terlihat marah.

"Astaga, anak badung. Kamu ngapain di rumah kosong tuh. Ndak takut kamu?"

Sebelum menjawab ibunya, Leni berjalan mendekatinya terlebih dahulu.

"Ada kucing. Aku pengen tahu aja dia tinggal dimana."

"Ih. Kamu tuh ya. Udah tau suka tersesat masih aja jalan sendiri."

Mendengar perkataan terakhir kedua manusia itu, sang ayah kucing memastikan pintu tertutup rapat dan kembali ke sarangnya untuk memastikan keluarganya baik-baik saja.

Sang ibu tidak bergerak jauh dari tempatnya berteduh dan anak-anaknya masih tertidur lelap.

Tidak lama setelah itu, si kecil terbangun dan mengelus badannya dengan badan ibunya.

Ibunya mengelus balik dan menjilati bagian dari kulitnya yang ia elus dengan ibunya.

Si kecil dengan kekuatannya mencoba untuk berdiri. Ia pun berdiri.

Tidak ada seharian, ia sudah bisa berdiri dengan keempat kakinya.

Sang ibu terkejut. Ayahnya pun ikut terkejut.

Sang ayah pun menggigit bagian leher si kecil dan menariknya ke ruangan yang lain. Sang ayah menurunkannya dan meninggalkannya di ruangan tersebut.

Si kecil bingung atas tindakan sang ayah. Dia mengeong, namun tidak ada yang menjawabnya.

Si kecil berusaha berdiri kembali dan mencoba untuk berjalan. Usahanya tidak berhasil karena untuk sekian kalinya ia terjatuh dari percobaannya berjalan.

Dia berusaha mengeong dengan kencang, namun tidak ada yang membalasnya. Lagi dan lagi ia mencoba namun tetap tidak dapat ia berjalan.

Beberapa menit berlalu, ia sedih dan terdiam di ruangan tersebut. Tanpa mengerti apa yang ayahnya lakukan dia hanya bisa terbaring dan hilang harapan. Lapar membuatnya tidak bisa mengeong lagi.

Di saat terpuruknya si kecil, ibunya menemuinya. Si kecil sangat senang melihatnya. Si ibu menggigit bagian lehernya dan membawanya ke sarangnya untuk memberinya asi kembali.

Sang ayah terlihat kecewa, namun si kecil masih tidak mengerti mengapa.

Tanpa basa-basi si kecil meminum ASI ibunya bersama saudaranya yang lain.

Seperti yang dilakukannya tadi, si kecil tetap rakus, membuat kedua saudaranya sulit untuk mendapatkan bagian mereka.

Hari pun berakhir dengan semuany tertidur nyenyak.

~Bersambung~

Lintang Langit


MyAnimeList iconMyAnimeList icon