Chapter 2:
Lintang Langit
Ini adalah sebuah kisah seekor kucing jantan yang baru saja lahir.
Hari pertama dia terlahir, ia sudah dapat menggaruk punggungnya dan juga berdiri. Ayahnya merasa kecewa karena si kecil tidak dapat kembali ke sarang dengan sendirinya.
Pada hari yang kedua, sang ayah kembali menariknya ke ruangan kemarin.
Si kecil masih kebingungan mengapa ayahnya berbuat seperti itu.
Dia berusaha seperti hari sebelumnya. Alhasil ia masih tidak bisa berjalan dengan baik.
Sebelum sang ibu menemui si kecil, sang ayah datang menatapi anaknya.
Si kecil berusaha mengeong meminta bantuan ayahnya. Ayanya terdiam. Si kecil mengeong kembali, namun tetap tidak dijawab oleh ayahnya.
Saat sudah ke dua puluh tiga kalinya si kecil berdiri dan terjatuh, sang ayah akhirnya membantunya. Sang ayah mendekat dan mengangkat badannya.
Si kecil berusaha untuk tetap berdiri, ayahnya pun mendorongnya dari belakang. Si kecil tetap terjatuh. Di saat terjatuh, ayahnya mengangkatnya kembali.
Proses tersebut diulang berkali-kali hingga si kecil bisa berjalan dengan baik.
Mereka berdua pun sampai kembali ke sarang mereka. Ibunya menatap mereka dan mengeong mengucapkan salam, "Selamat datang kembali."
Si kecil merasa senang, namun masih belum bisa berjalan mendekati ibunya. Si kecil menunggu ayah mendorongnya kembali, namun ayahnya tidak melakukannya. Ia menatap ke belakang, dimana ayahnya berdiri.
Saat melihat ayahnya, ternyata ayahnya duduk dengan tenang menatapnya kembali.
Sang ayah menutup mata dan tidak menjawab ngeongan si kecil.
Dan pada saat itulah, si kecil mengerti. Ia harus berjalan sendiri mendekati ibunya. Dengan kuat, ia berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah mendekati ibunya.
Ibunya tersenyum melihat betapa hebatnya salah satu anaknya.
Kedua saudaranya pun juga menyaksikan tekad si kecil yang luar biasa besar.
Dalam beberapa menit itu pun ia berhasil kembali mendekati ibunya. Ibunya memberi penghargaan dengan menjilati seluruh badannya.
Ia merasa senang dan membuat kedua saudaranya ingin melakukan hal yang sama.
Dengan dorongan yang kuat, kedua saudara si kecil pun mencoba berdiri juga.
Mereka pun diperlakukan hal yang sama sepertinya saat pertama kali berdiri.
Dihatinya, ia berpikir, "Semoga berhasil, saudaraku."
Disaat yang sunyi, seperti sekarang, mereka tidak menyangka akan kedatangan tamu.
"Iya pak jadi ini bangunan akan dirobohkan dan dijadikan bangunan yang baru."
"Sudah tahu mau dibangun apa?"
"Belum, pak. Namun kami ingin meminta kesepakatan untuk menghancurkan bangunan ini dulu pak."
Sang ayah mendengar kedua manusia tersebut dan segera menarik kedua anaknya yang ia latih kembali ke sarangnya dimana ibunya berada.
Dengan segera, ia berjalan menuju pintu masuk.
"Heh? Ada kucing?"
"Apa kalian sudah memeriksa ke dalam?"
"Belum pak. Kami langsung meminta izin ke bapak."
"Baiklah mulai besok periksalah dari bawah hingga atas. Kita tidak mau ada hewan liar membuat sarang di bangunan ini sebelum diruntuhkan."
"Baik pak."
Kedua manusia itu pun berjalan keluar. Tanpa mengerti bahasa mereka, sang ayah kembali dan memastikan keluarganya aman.
Saat sang ayah kembali, ia melihat dengan gembira. Ia menjilati setiap anggota keluarganya dan kembali melakukan latihannya denga anak-anaknya.
Waktu pun berjalan cepat dan hari ketiga setelah si kecil lahir tiba.
Manusia yang datang kemarin kembali dengan membawa banyak manusia yang baru.
Keluarga kucing itu pun bersembunyi mencari tempat aman.
Namun karena banyaknya manusia mereka kalah tanding.
Si kecil yang baru saja bisa berjalan bersembunyi dan berhasil melarikan diri dari setiap manusia yang mencoba menangkapnya.
Saat ia keluar dari bangunan itu, ia menatap ke belakang dan melihat setiap anggota keluarganya ditangkap dan dimasukan ke kandang.
Karena ketakutan dia hanya bisa lari dari situ tanpa melihat ke belakang lagi.
Sebelum berlari jauh, ia mendengar ngeong berasal dari tempat ia awal berlari. Dia tidak begitu tahu siapa itu, namun dengan firasatnya, ia berpikir itu ayahnya karena ngeongan tersebut terdengar seperti, "Kabur, nak! Jangan sampai tertangkap."
Si kecil berjalan makin cepat. Dengan paksaan ini, ia pun belajar cara untuk berlari. Ia pun berlari dengan cepat sampai ke tempat yang dia tidak kenal.
Sendirian tanpa arah, ia pun berteduh di bawah bayangan benda yang dia tidak kenali. Sebuah benda yang melayang tinggi di dekat tembok yang ia sandari.
"Waaah, ada kucing kecil."
Terkejut si kecil, lari lagi.
"Tunggu, Meong. Aku tidak akan melukaimu kok."
Si kecil tidak ingin mendengar manusia itu dan tetap berlari ke dalam gang sempit yang tidak dapat di masuki manusia tersebut.
Dalam pikirnya, "Aku berhasil kabur. Ini terasa seperti tempat aman."
Ia pun menetap di gang tersebut bertahan hidup sampai ia mendapatkan rumah baru.
~Bersambung~
Please sign in to leave a comment.