Chapter 4:
Lintang Langit
Ini adalah kisah seekor kucing jantan yang baru saja lahir.
Setelah mendapat perawatan yang kecil dari Leni, si kecil merasa ia perlu pindah karena terlalu banyak manusia di tempat ia tinggal sekarang. Namun bukannya menemui tempat baru, ia malah terjatuh ke got, tempat dimana air kotor berada.
Saat si kecil terjatuh ke dalam got, ia terselamatkan oleh seorang pekerja yang berada di sana. Ia merasa beruntung dan juga takut di saat yang bersamaan.
"Yo, bro. Ada yang lagi nganggur? Ada kucing nyemplung ke got nih."
Tentu si kecil tidak mengerti apa yang dikatakan oleh manusia itu. Fakta ini membuatnya tambah ketakutan.
"Mau diapain? Langsung taro aja ke jalanan sana."
"Nggak gitu atuh. Keliatan banget ini masih berapa minggu lahir. Nggak mungkin dia bisa bertahan sendiri diluar sana."
Kanan, kiri. Atas, bawah. Si kecil hanya bisa mengamati dengan tegang. Manusia disini, manusia disana. Ia berpikir apa yang dia lakukan salah.
"Seharusnya aku tetap ditempatku waktu itu", pikirnya.
Setelah bebincang dan saling berpendapat, seorang pekerja mengutarakan solusi, "Gua aja, brey! Gua tau harus kasih ke siapa."
"Serius, Johan. Anak hewan nggak bisa sembarangan loh."
"Santai, brey. Gua punya kenalan."
Si kecil pun diberikan kepada Johan. Dengan cepat Johan menutupi si kecil dengan handuk yang dia miliki. Si kecil pun merasa hangat dan tenang.
"Ck ck, kecil-kecil hebat ya kamu, udah bisa sendirian aja", seru Johan sembil mengelap badan si kecil dengan elegan.
Si kecil mengeong dan menggeliat.
"Rasanya geli", serunya di dalam hatinya saat dilap oleh Johan.
"Baiklah, memeng. Kita bawa kamu ke tempat aman", seru Johan sambil membungkus si kecil seperti burito dengan handuk yang digunakannya.
Setelah kejadian itu, Johan melambaikan tangan dan meminta untuk pulang lebih awal dari pekerjaannya. Bossnya memberi Johan izin dan tidak akan menurunkan gaji karena tahu apa yang dia ingin lakukan. Indahnya memiliki boss seperti bossnya Johan.
"Yos! Kita bakal naik motor, jadi memeng masuk jaket ya."
Dengan handuk yang masih dipakai oleh si kecil, Johan pun menyleting ritsleting jaketnya dengan demikian rupa agar si kecil bisa mengambang di antara badannya dan jaketnya.
*Vroom*
Johan pun berangkat. Si kecil merasakan angin kecang dari tempat ia berada. Sambil merasakan angin itu, ia melihat berbagai macam hal yang dia belum pernah lihat. Semuanya itu membuat dia terkesan.
Didalam perjalanan, si kecil juga mendengar banyak suara-suara yang belum dia pernah dengar. Itu membuatnya takut, namun karena ia berada di tempat yang sangat aman dia merasa tenang.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai dan...
"Yaaah, tutup. Kok bisa-bisanya sih rumah sakit hewannya tutup. Aku harus bagaimana sekarang? Padahal udah izin boss dan diizinkan, tapi malah gini jadinya."
Si kecil mengeong kebingungan. Dia berpikir Johan kesakitan. Dia mencoba untuk keluar dari handuk tersebut namun ia tidak bisa karena bungkusan handuknya terlalu kencang dan berlapis-lapis. Si kecil sudah berusaha semampunya namun dia menyerah dan hanya bisa mengeong.
"Halo, Bu Yeni. Iya ini saya, Johan. Hari ini ibu nggak buka klinik hewan ya?"
"Meong?" Seru si kecil sambil menatap ke atas tepat ke muka Johan.
"Oh, gitu ya, bu. Baik saya ke lokasi ibu."
Johan menaru handphonenya ke dalam kantung jaketnya dan berbicara ke si kecil, "Memeng bakal langsung ke dokter hewannya nih ya. Semoga kamu cepat dewasa ya memeng. Dan semoga kamu cepat dapet pemilik yang ingin memeliharamu."
Si kecil masih tidak paham jadi ia hanya mengeong.
"Yosss, kita nge-joss."
Johan pun kembali mengembudikan motornya dan ia pun sampai ke rumah Bu Yeni si dokter hewan. Saat Johan sudah berada di depan rumah Bu Yeni, Bu Yeni pun menyapa, "Johan! Aduh makasih banget ya udah baik banget sama anak hewan ini."
"Nggak masalah kok, Bu. Saya juga nggak enak sama si kecil nyemplung ke got."
"Aduh, dia menggigil tidak?"
"Tadi sih iya, tapi sekarang rasanya di aman-aman saja."
"Meoong"
Setelah itu, si kecil dikeluarkan dari jaket Johan. Ia pun juga di lepas dari handuknya. Sehabis itu, Johan menyerahkan si kecil kepada Bu Yeni.
"Okelah, sekarang kamu ada di tangan Bu Yeni ya, memeng. Semoga cepet gede."
"Beri salam sama abang tuh. Dadah."
Mendengar kata dadah, si kecil mengingat Leni. Dari ingatanya Leni membuka tangannya ke atas dengan lebar dan melambaikannya. Ia pun menirukannya dan membuat Johan dan Bu Yeni terkejut.
"Wow, kamu juga ajarin dia, Jo."
"Nggak, Bu. Mungkin dia pernah diajarin orang lain."
Setelah bincang sebentar, Johan pun pergi mengemudi kembali ke tempat kerjanya. Bu Yeni pun masuk ke rumahnya dan memulai perawatan untuk si kecil.
~Bersambung~
Please sign in to leave a comment.