Chapter 3:

Lintang & Seorang Gadis

Lintang Langit


Ini adalah sebuah kisah seekor kucing jantan yang baru saja lahir.

Rumahnya sudah dibongkar habis oleh manusia dan keluarganya ditangkap oleh mereka. Ia berhasil kabur, namun sekarang ia harus bertahan hidup di alam yang dia tidak ketahui.

Sudah beberapa hari berlalu, si kecil hanya dapat bertahan hidup dengan berteduh di gang yang sempit, meminum air hujan yang sesekali jatuh, dan memakan makanan yang dijatuhkan manusia ke jalan.

Walau mendapatkan semua itu, ia sadar bahwa ini tidak cukup.

Nutrisi yang di dapat dari air hujan dan makanan manusia yang jatuh tidak lebih dari saat dia meminum ASI ibunya. Dia merasa putus asa.

"Hei, meong!"

Mendengar itu, ia menatap ke arah suara tersebut.

"Ingat aku? Ini! Aku bawain kamu ikan goreng."

Didalam pikirannya, "Ikan... goreng..."

Sudah beberapa hari, si kecil bertemu dengan seorang perempuan itu. Mereka saling berinteraksi satu sama lain. Walau berinteraksi, si kecil masih tidak mempercayai dia.

"Semoga kamu kenyang ya. Hati-hati ketelak tulangnya."

"Ikan goreng", si kecil terus berpikir dan mengingat bahwa makanan yang ia makan sekarang bernama ikan goreng.

Dengan bantuan dari perempuan itu, si kecil berpikir, "Mungkin aku masih bisa bertahan seperti ini."

Si kecil tahu kalau makanan yang disebut ikan goreng ini bernutrisi tinggi dan setiap sesekali manusia tersebut memberikan makanan tersebut kepadanya. Walau sedikit saja.

"Leni!"
"Iya, bu!"
"Ayo pulang!"
"Baik!"

Perempuan itu tersenyum dan berseru, "Kita ketemuan lagi ya, meong."

"Leni...", si kecil berseru di pikirannya.

Ia merasa tidak asing dengan kata itu karena ia sering mendengar nama itu dilontarkan kepada perempuan yang memberinya makan ikan goreng.

Dikemudian hari, saat perempuan itu berkunjung untuk memberi si kecil makan. Si kecil dengan ngeongannya berseru, "Leee... niiii...."

Perempuan itu mendengarnya dan berseru, "... apa baru saja kamu memanggil namanku?"

Si kecil mengeong kembali, "Lee... nii..."

Perempuan itu terkejut dan terdiam untuk beberapa detik. Saat ia tersadr kembali, ia berseru dengan gembira, "Ohh... Meong. Kamu bisa bahasa manusia? Keren sekali"

Si kecil hanya bisa menatap dengan muka yang takut. Ia berpikir, "Apa aku salah berbicara?"

"Sini, meong. Sini!"

Perempuan tersebut menggunakan tangannya dengan begitu rupa membuat bahasa isyarat agar si kecil mendekat.

Namun usahanya tidak berhasil karena si kecil masih takut dengannya.

"Ah, benar juga. Ini aku beri kamu ikan goreng lagi. Makanlah yang banyak ya."

Tanpa pamrih, si kecil menerima ikan goreng itu. Ssetelah mengambilnya dari tanah, si kecil berusaha untuk kabur, namun...

"Hup! Kena kamu!"

Si kecil diangkat oleh perempuan tersebut, membuatnya mengeong keras.

"LENI! Ngapain kamu?!"

"Ah?? Ibu?"

"Turunin kucing itu! Udah tau kotor malah diangkat-angkat gitu. Pulang mandi! Atau ibu tidak akan kasih kamu makan!"

Saat menderngar itu, Leni menurunkan si kecil dan berlair ke ibunya sambil menangis, "Iiiih, ibu jahat banget sih! Aku kan cuman main-main sama meong."

Si kecil pun bergerak cepat dan bersembunyi tanpa membawa ikan gorengnya.

Tidak lama pun matahari terbenam, disaat yang bersamaan, hujan pun turun. Si kecil mencoba untuk menghangatkan diri dengan memeluk dirinya sendiri. Akan tetapi aksinya tidak berhasil dan ia tetap merasa kedinginan.

"Meong?"

Si kecil medengar suara Leni walau hujan terdengar agak deras.

"Aku bawain kamu payung. Pake ini ya."

Si kecil menatap saat Leni melempar panyung yang sudah terbuka kedalam gang yang agak sempit itu.

"Semoga kamu tidak sakit dan kedinginan. Dadah!"

Si kecil menatap payung tersebut dan berlari ke bawah naungan payung tersebut. Ia merasa tenang dan tidak kehujanan lagi.

Keesokan harinya,

"Meong!"

Si kecil terkejut dan kabur.

"Maaf! Aku bawain kamu makanan yang lain nih!"

Leni mengeluarkan bekal siangnya, dan memberikan si kecil sepotong ayam goreng.

"Nih, meong! Aku kasih kamu sedikit aja. Makan yang baik ya! Aku akan kembali nanti sore!"

Si kecil itu masih merasa terkejut, dia tidak berani keluar dari persembunyiannya. Setelah beberapa saat, dia pun keluar dan mengambil kepingan ayam goreng yang di lempar Leni dan memakannya.

Saat dia ingin melegakan tenggorokannya dengan air, ia hanya bisa menemukan genangan air disekitarnya. Sebenarnya dia tidak mau hanya minum air genangan hujan, namun ia terpaksa.

Setelah makan pagi, si kecil berjalan keluar dari gang kecil itu dan berusaha untuk mencari tempat teduh yang lebih baik.

"Huh? Apa itu?"

Si kecil mendengar suara anak-anak berteriak dekatnya dan berusaha untuk mencari asal suara itu. Saat diamenatap beberapa anak itu, mereka sudah dekat dengan si kecil. Dengan usaha yang keras, ia mencoba untuk mengeong dengan keras karena ia berpikir anak-anak tersebut akan pergi jika ia melakukan itu.

"Iihhh lucu banget!"
"Awas Sena! Kucing itu, kucing liar. Nanti digigit baru tau rasa kamu!"
"Apa sih? Dia masih kecil tahu! Nggak mungkin dia gigit."

Karena merasa terancam, si kecil mencari celah untuk kabur dan ia mengambil kesempatan tersebut.

"Ah, MEONG! Jangan kabur."
"Nah, kan! Si kecil aja nggak suka sama kamu."
"Ih, Ijal, jahat ah! MAMA!"
"WEH, APA APAAN! Kok manggil emak kamu sih! Wow, nggak usah segitunya kali!"

Si kecil berhasil kabur dan menemukan lubang di tanah yang pas buatnya. Ia pun memasukinya dan terjatuh ke dalam air.

Tidak lama saat dia jatuh, seorang manusia melihat cipratannya. Manusia itu pun segera mendatangi si kecil dan berusaha menyelamatkannya.

"Astaga, bagaimana bisa dia jatuh? Greg! Ada anak kucing jatuh lubang got. Kita harus apakan dia?"

Si kecil pun dibawa oleh manusia itu dan dia pun merasa ketakutan karena tidak tahu apa yang manusia tersebut akan lakukan kepadanya.

~Bersambung~

MyAnimeList iconMyAnimeList icon